Facebook Tag Pixel

Pengusaha suka sekali mendengar kata “auto-pilot”. Terlebih jika itu terjadi dalam bisnisnya sendiri. Masalahnya, sering kali bisnis yang sudah diserahkan ke orang lain malah tidak bisa berkembang secara pesat seperti waktu dahulu dia pegang sendiri. Kenapa ya, padahal semua sistem SOP, dan lainnya sudah dibakukan.

Sebenarnya tombol auto-pilot dalam navigasi pesawat hanya boleh dinyalakan saat kondisi stabil dan tidak ada turbulensi. Dalam kondisi take-off atau landing, si Pilot harus gunakan sistem manual.

Kembali ke bisnis. Jika kondisi ekonomi baik-baik saja, maka perusahaan bisa dijalankan secara auto-pilot. Tapi saat terjadi gejolak krisis, atau perubahan kebijakan pemerintah, maka tidak boleh sang business owner tidak turun tangan. The real captain is still the owner itself. Bukan karyawan profesional yang diminta untuk memimpin.

Ibaratnya, Owner itu seperti Kapten sedangkan Manajernya seperti Co-Pilot nya. Jam terbang yang dimiliki kapten tentu jauh lebih banyak dari co-pilot. Saat ada cuaca ekstrim, maka sang kaptenlah yang membuat keputusan untuk mengubah arah terbang pesawat, bukan co-pilotnya. Saat kondisi cuaca baik-baik saja, biasanya tombol auto-pilot dinyalakan, dan kapten bisa beristirahat sebentar, sedemikian perannya sementara bisa digantikan oleh co-pilot.

Jadi, mau pakai mode manual atau auto-pilot sekalipun, Si Kapten posisinya tetap berada di dalam cock-pit, siap ambil alih kembali kemudi saat terjadi hal yang tidak diinginkan. Kapten tidak berada di luar pesawat, dia tetap ada di dalam pesawat! Business owner harus tetap perhatikan kondisi bisnisnya, jangan ditinggal sepenuhnya!

Keep Stupid to Sail Forward,
DSW

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Fill out this field
Fill out this field
Please enter a valid email address.

Menu
Share via
Copy link
Powered by Social Snap