Facebook Tag Pixel

Pelatihan Problem Solving dan Kreativitas untuk Meningkatkan Kinerja Manajer PT Wahana Lentera Raya

Pelatihan Problem Solving dan Kreativitas untuk Meningkatkan Kinerja Manajer PT Wahana Lentera Raya

Avian Tower Lantai 19, Waru, Sidoarjo , 15 Oktober 2025 – Dalam rangka meningkatkan keterampilan manajerial, PT Wahana Lentera Raya mengadakan pelatihan bertema Problem Solving and Creativity Skill, berkerja sama dengan SLC Marketing Inc. Pelatihan ini berlangsung pada hari Rabu, 15 Oktober 2025, bertujuan untuk memperkuat kemampuan para pemimpin dalam mengelola tantangan yang berkembang, dengan fokus pada pengembangan keterampilan pemecahan masalah dan kreativitas di tengah perubahan dinamis, terutama dalam menghadapi tantangan yang dihadapi oleh generasi Z di tempat kerja.

Pelatihan dimulai dengan dia dan dilanjut dengan ice breaking dari Dimas Fitrah Rahmatika, yang bertujuan untuk menciptakan suasana yang fokus dan kondusif. Setelah itu, sesi dilanjutkan dengan pembukaan resmi oleh Dr. Sandy Wahyudi, yang mereview tugas dari peletahuna sebelumnya mengenai pentingnya coaching dalam memberikan umpan balik yang konstruktif untuk pengembangan karyawan.

Dr. Sandy Wahyudi mengingatkan pentingnya coaching yang dilakukan secara rutin setiap bulan kepada karyawan untuk memberikan umpan balik yang bermanfaat dan membimbing mereka dalam mencapai potensi terbaik. Fokus pelatihan ini adalah untuk membekali para manajer dengan keterampilan problem-solving yang lebih efektif dan memberikan wawasan baru mengenai pengelolaan tim, khususnya yang melibatkan generasi Z.

Fokus Pelatihan: Tantangan yang Dihadapi oleh Gen Z

Setelah pembukaan, Dimas Fitrah Rahmatika mengambil alih sesi pelatihan untuk membahas secara mendalam permasalahan yang dihadapi oleh generasi Z di tempat kerja. Generasi ini, yang kini semakin dominan dalam angkatan kerja, menghadapi serangkaian tantangan yang memerlukan pendekatan manajerial yang berbeda.

Dimas mengidentifikasi beberapa masalah utama yang sering dihadapi oleh karyawan Gen Z, yaitu:

  1. Unmet Expectations
    Banyak karyawan Gen Z memiliki ekspektasi yang sangat tinggi terhadap pekerjaan mereka, terutama mengenai pengembangan karier dan keseimbangan hidup. Mereka menginginkan pekerjaan yang tidak hanya memberikan gaji yang baik, tetapi juga memberikan kesempatan untuk berkembang dan memberi dampak positif pada masyarakat. Ketika ekspektasi ini tidak terpenuhi, mereka cenderung merasa kecewa dan kurang termotivasi, yang dapat mempengaruhi kinerja mereka di tempat kerja.
  2. Work-Life Balance
    Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi oleh Gen Z adalah menjaga keseimbangan antara kehidupan pribadi dan pekerjaan. Mereka lebih memilih fleksibilitas dalam bekerja dan cenderung lebih mementingkan kesehatan mental dan waktu bersama keluarga atau teman. Dalam banyak kasus, budaya kerja yang menuntut waktu kerja panjang atau tidak fleksibel dapat menyebabkan stres dan ketidakpuasan yang berdampak pada produktivitas.
  3. Masalah Kesehatan Mental
    Kesehatan mental menjadi salah satu isu yang semakin diperhatikan oleh generasi Z. Banyak dari mereka yang merasa terbebani oleh tekanan di tempat kerja, terutama dengan tuntutan untuk tampil sempurna, memenuhi ekspektasi tinggi, dan berkompetisi di lingkungan yang serba cepat. Kurangnya dukungan emosional dan stres yang berkepanjangan dapat menyebabkan burnout dan masalah kesehatan mental lainnya yang berdampak pada kesejahteraan mereka.
  4. Job Insecurity
    Ketidakpastian dalam dunia kerja, terutama dengan munculnya tren kerja remote dan gig economy, menciptakan ketidakamanan kerja bagi Gen Z. Mereka merasa cemas tentang masa depan pekerjaan mereka, khawatir tentang stabilitas pekerjaan, dan kurangnya jaminan karier jangka panjang. Hal ini dapat menyebabkan karyawan merasa tidak dihargai dan kurang loyal terhadap perusahaan.
Solusi untuk Mengatasi Kepatuhan SOP oleh Gen Z

Dimas melanjutkan dengan menjelaskan bagaimana perusahaan dapat mengatasi masalah tersebut dengan pendekatan yang lebih inklusif dan adaptif. Salah satu solusi yang diusulkan adalah keterlibatan aktif karyawan, terutama generasi Z, dalam pembentukan SOP (Standard Operating Procedures). Dengan melibatkan mereka dalam proses pembuatan SOP, karyawan merasa lebih dihargai dan memiliki rasa kepemilikan terhadap aturan yang ada. Hal ini meningkatkan kepatuhan mereka terhadap SOP dan memberikan kesempatan bagi mereka untuk berkontribusi dalam menciptakan cara kerja yang lebih efisien.

Selain itu, Dimas juga menekankan pentingnya menghubungkan SOP dengan Key Performance Indicators (KPI) yang dapat memberikan tujuan yang jelas dan terukur bagi karyawan. Dengan KPI yang relevan dan disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing karyawan, perusahaan dapat memotivasi generasi Z untuk mencapai hasil yang optimal dan sesuai dengan harapan mereka, sekaligus memberi mereka rasa pencapaian dan tujuan yang lebih jelas.

Baca juga : PT Wahana Lentera Raya (Active Furniture) – Pelatihan Manajemen Konflik

Paradigma Produktivitas: Menjembatani Antara Gaji dan Kinerja

Setelah itu, Dr. Sandy Wahyudi melanjutkan pelatihan dengan menjelaskan tentang Paradigma Produktivitas yang sangat penting bagi manajer dalam memahami dinamika antara gaji dan produktivitas di tempat kerja. Dr. Sandy mengungkapkan empat situasi produktivitas yang perlu dipahami oleh setiap manajer:

  1. Gaji tinggi, tetapi produktivitas rendah: Dalam situasi ini, perusahaan membayar gaji yang tinggi, namun hasil kerja yang diperoleh tidak sebanding. Hal ini mencerminkan bahwa meskipun perusahaan membayar lebih, karyawan tidak menunjukkan kinerja yang maksimal. Ini disebut “amal”, di mana perusahaan memberikan lebih banyak tanpa memperoleh hasil yang diharapkan.
  2. Gaji rendah, tetapi menuntut produktivitas tinggi: Situasi ini terjadi ketika perusahaan membayar dengan gaji rendah, namun menuntut hasil kerja yang tinggi dari karyawan. Hal ini sering kali disebut sebagai “pemerasan”, di mana karyawan dipaksa untuk bekerja lebih keras dengan imbalan yang tidak sesuai dengan usaha mereka.
  3. Gaji rendah dan produktivitas rendah: Dalam situasi ini, baik gaji yang diberikan maupun produktivitas karyawan berada pada level yang rendah. Ini merupakan kondisi yang merugikan bagi kedua belah pihak, yang sering kali disebut sebagai “bunuh diri” organisasi. Karyawan tidak termotivasi dan perusahaan tidak mendapatkan hasil yang diinginkan.
  4. Gaji tinggi dan produktivitas tinggi: Ini adalah situasi yang ideal, di mana karyawan diberi gaji yang kompetitif dan menghasilkan kinerja yang sangat baik. Ketika gaji dan produktivitas berada dalam keseimbangan yang baik, ini menjadi “kemajuan bagi organisasi”, di mana perusahaan dan karyawan sama-sama mendapatkan manfaat yang maksimal.

Di tengah sesi, Pak Jonathan menanyakan apakah KPI untuk karyawan generasi Z harus sama dengan posisi sebelumnya. Dr. Sandy menjelaskan lebih lanjut bahwa dalam konteks karyawan generasi Z, KPI harus disesuaikan dengan kemampuan maksimal mereka. Setiap karyawan memiliki potensi dan cara kerja yang berbeda, sehingga KPI yang diterapkan tidak boleh bersifat generik atau sama antara satu individu dengan individu lainnya. Penyesuaian KPI ini bertujuan untuk meningkatkan motivasi, rasa tanggung jawab, dan produktivitas karyawan secara personal.

Proses Pemecahan Masalah yang Sistematis dan Efektif

Salah satu topik utama dalam pelatihan Problem Solving & Kreativitas PT Wahana Lentera Raya ini adalah Proses Pemecahan Masalah yang Sistematis dan Efektif, yang sangat penting bagi para manajer dalam menghadapi berbagai tantangan dan dinamika yang muncul di tempat kerja. Dr. Sandy Wahyudi menjelaskan bahwa proses pemecahan masalah yang efektif membutuhkan langkah-langkah yang terstruktur agar dapat menghasilkan solusi yang tepat dan inovatif.

Berikut adalah langkah-langkah utama yang diajarkan dalam proses pemecahan masalah yang sistematis:

1. Identifikasi Masalah

Proses pertama yang harus dilakukan dalam pemecahan masalah adalah identifikasi masalah secara mendalam. Dr. Sandy menekankan bahwa seringkali masalah yang tampak di permukaan bukanlah masalah utama. Oleh karena itu, manajer perlu menggunakan pendekatan analitis seperti 5W + 1H (What, Why, When, Where, Who, How) untuk menggali akar masalah. Ini membantu untuk memahami lebih dalam tentang apa yang menyebabkan masalah tersebut dan bagaimana masalah itu mempengaruhi kinerja organisasi.

Selain itu, dalam sesi pelatihan, para peserta sempat membahas penerapan 5W + 1H yang sangat relevan dengan tantangan yang dihadapi oleh divisi Finance perusahaan. Diskusi ini membantu para karyawan untuk lebih memahami bagaimana pendekatan sistematis ini dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan perencanaan anggaran, strategi pricing, dan pengelolaan sumber daya keuangan dengan lebih efektif.

2. Pengumpulan Informasi dan Analisis

Setelah masalah teridentifikasi, langkah berikutnya adalah pengumpulan informasi yang relevan untuk menganalisis situasi secara lebih mendalam. Dr. Sandy menjelaskan bahwa keputusan yang baik hanya dapat diambil jika data yang tersedia adalah akurat dan relevan. Oleh karena itu, sangat penting untuk menggunakan berbagai sumber informasi yang tersedia, baik itu laporan kinerja, feedback karyawan, maupun analisis pasar.

Selain itu, penting untuk melakukan analisis data dengan menggunakan alat dan metode yang tepat. Misalnya, dengan menggunakan analisis SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunities, Threats) untuk menilai kekuatan dan kelemahan dalam organisasi, serta peluang dan ancaman eksternal. Hal ini memungkinkan manajer untuk mengidentifikasi solusi yang paling sesuai berdasarkan situasi yang ada.

3. Pencarian dan Pemilihan Solusi

Setelah data terkumpul dan dianalisis, langkah berikutnya adalah mencari solusi yang dapat menyelesaikan masalah dengan efektif. Dr. Sandy menyarankan agar manajer mengembangkan beberapa alternatif solusi sebelum memilih yang terbaik. Pendekatan kreatif sangat penting di sini, karena solusi yang inovatif sering kali lebih efektif dalam menyelesaikan masalah yang kompleks. Oleh karena itu, manajer harus terbuka terhadap berbagai pendekatan dan mempertimbangkan berbagai perspektif.

Setelah berbagai alternatif solusi dikembangkan, langkah selanjutnya adalah memilih solusi terbaik yang memenuhi tujuan jangka panjang perusahaan dan karyawan. Solusi yang dipilih harus dapat memberikan manfaat nyata, mengurangi dampak negatif dari masalah yang dihadapi, serta dapat diimplementasikan dengan sumber daya yang tersedia.

Penutup: Aktivitas Interaktif yang Mengasah Kerja Sama dan Kreativitas

Pelatihan Problem Solving & Kreativitas ini diakhiri dengan kegiatan interaktif yang melibatkan pembuatan gedung menggunakan sedotan. Kegiatan ini bertujuan untuk menguji kemampuan peserta dalam bekerja sama, berpikir kreatif, dan memecahkan masalah secara efisien. Setiap kelompok diberikan bahan yang terbatas dan diminta untuk membangun struktur yang kuat, yang melambangkan bagaimana kreativitas dan kolaborasi dapat mengatasi tantangan.

Share Via:

WhatsApp
Facebook
Twitter
LinkedIn
Banner Vertical 600x840 Podcast

Artikel Lainnya:

Sales & Marketing Skills Mini-Course

Sales Continuity Strategy di Indomaret: Pelajaran Penting dari Rak Minimarket

Fenomena Job Hugging: Laporan Eksklusif Tren Kerja Generasi Z

Siap tingkatkan performa bisnis diawal tahun 2026? Jangan lewatkan kesempatan emas untuk mengasah skill profesional Anda dalam SLC MARKETING INC Mini Course Series! Mulai dari strategi Sales & Marketing hingga teknik Creative Thinking. Kuota peserta sangat terbatas, amankan kursi Anda sekarang !