
SLC Marketing mengadakan sesi pelatihan bertajuk “Service Excellent”, yang dipandu oleh Dr. Sandy Wahyudi DSW, CEO SLC Marketing Inc, dan Dimas Fitrah Rahmatika, S.M., Project Officer di bidang PSDM. Pelatihan ini bertujuan untuk membekali peserta dengan keterampilan dan mindset yang dibutuhkan untuk memberikan pelayanan berkualitas tinggi, yang tidak hanya mengutamakan produk, tetapi juga pengalaman dan kepuasan pelanggan.
Latar Belakang Pelatihan
Pelatihan ini diselenggarakan untuk membentuk budaya pelayanan yang lebih baik, di mana setiap individu dalam perusahaan memiliki peran penting dalam menciptakan pengalaman positif bagi pelanggan. Dr. Sandy Wahyudi DSW mengungkapkan bahwa “Pelayanan dilakukan oleh manusia, bukan mesin. Oleh karena itu, kualitas pelayanan tidak bisa sama setiap saat, dan kita harus terus meningkatkan diri.”
Poin-Poin Utama Pelatihan
Salah satu teknik yang digunakan dalam pelatihan ini adalah metode bertanya terus-menerus untuk menemukan tujuan yang lebih dalam di balik tindakan sehari-hari. Peserta dilatih untuk mempertanyakan “mengapa” dalam setiap tindakan mereka, misalnya, “Mengapa kita berangkat kerja setiap hari?” dan “Mengapa kita melayani pelanggan?” Melalui pertanyaan-pertanyaan ini, peserta diarahkan untuk menemukan alasan yang lebih dalam dan personal untuk setiap tindakan mereka, dan memahami bahwa pelayanan yang baik berasal dari maksud yang benar dan niat yang tulus.
Baca juga : Pelatihan Problem Solving dan Kreativitas untuk Meningkatkan Kinerja Manajer PT Wahana Lentera Raya
5 Prinsip Service Excellent
Dr. Sandy Wahyudi DSW menyampaikan lima prinsip dasar yang harus diterapkan dalam pelayanan kepada pelanggan:
- Tangible (Persepsi Visual)
Kesannya dimulai dengan penampilan fisik dan sikap. Kesan pertama itu penting! Pastikan untuk menyapa dengan senyum, berpakaian rapi, dan memeriksa penampilan dari kepala hingga kaki. Senyum adalah elemen sederhana yang bisa menciptakan perbedaan besar dalam pengalaman pelanggan. - Empathy (Empati)
Pelayanan harus datang dari hati. Empati bukan hanya soal merasa, tetapi juga bertindak untuk menyelesaikan masalah pelanggan. Empati = Simpati + Tindakan. Menjadi seorang problem solver yang siap membantu pelanggan dengan solusi yang nyata. - Responsive (Responsif)
Menyediakan layanan proaktif. “Nyalakan radar”—bertindak sebelum pelanggan meminta. Selalu siap untuk mengantisipasi kebutuhan pelanggan dan memberikan solusi yang efektif tanpa diminta. - Reliable (Dapat Diandalkan)
Keandalan adalah dasar dari kepercayaan. Berikan janji Anda, dan pastikan untuk memenuhi komitmen yang telah dibuat. Jangan takut untuk berani meminta maaf jika terjadi kesalahan dan usahakan untuk selalu memberikan layanan yang lebih cepat dan lebih baik dari yang diharapkan pelanggan. - Assurance (Jaminan)
Memberikan jaminan yang jelas kepada pelanggan bahwa mereka akan mendapatkan apa yang mereka butuhkan. “Katakan yang harus diketahui pelanggan”, berikan informasi yang mereka butuhkan bahkan sebelum mereka bertanya, dan berikan ruang pribadi untuk pelanggan merasa nyaman dan dihargai.
Mengatasi Kecemburuan di Tempat Kerja
Selain fokus pada pelayanan, Dimas Fitrah R mengajarkan bagaimana mengelola kecemburuan tempat kerja atau workplace envy. Ia menekankan pentingnya pengembangan diri, mempercayakan kepada manajemen yang adil, dan berhenti membandingkan diri dengan orang lain. Dengan mindset yang benar, setiap individu akan merasa dihargai dan termotivasi untuk bekerja lebih baik.
Mindset Pelayanan Sebagai Ibadah
Peserta juga diajak untuk mengubah cara pandang mereka terhadap pekerjaan dan pelayanan. “Kerja itu ibadah”, kata Dr. Sandy, yang menekankan bahwa setiap pekerjaan yang dilakukan dengan niat untuk melayani Tuhan, bukan semata-mata untuk mendapatkan uang, akan memberikan dampak positif bagi diri sendiri, pelanggan, dan perusahaan.
Memenangkan Hati Pelanggan
Dalam sesi interaktif, Dr. Sandy menekankan bahwa tujuan utama perusahaan adalah “memenangkan hati pelanggan” dengan memberikan pelayanan yang lebih dari sekedar memenuhi kebutuhan mereka. Menyelesaikan masalah pelanggan dengan cara yang menyentuh hati mereka akan membuat mereka tidak hanya puas, tetapi juga loyal dan merekomendasikan layanan tersebut ke orang lain.
“Menangkan dompet mereka atau menangkan hati mereka?”
Pelatihan ini juga membahas dua pendekatan dalam pelayanan: apakah kita berfokus pada menarik perhatian mereka untuk membeli produk atau menarik hati mereka untuk menciptakan hubungan jangka panjang. Budaya pelayanan yang ditanamkan di [nama perusahaan] adalah untuk memberikan solusi yang berfokus pada membangun hubungan horizontal antara perusahaan dan pelanggan.
Penutupan Pelatihan
Di akhir pelatihan, peserta diajak untuk refleksi diri dan memikirkan bagaimana mereka bisa lebih baik dalam melayani dengan niat yang benar. Para peserta diingatkan untuk tidak hanya mengejar gaji atau keuntungan pribadi, tetapi untuk menganggap pekerjaan mereka sebagai ibadah, yang pada gilirannya akan membawa keberkahan dalam hidup mereka.
Dengan berfokus pada pelatihan ini, Prospine Clinic berkomitmen untuk tidak hanya menjadi pemimpin pasar melalui produk yang mereka tawarkan, tetapi juga melalui budaya pelayanan yang luar biasa yang membedakan mereka dari para kompetitor.