Istilah “soft life” sering dikaitkan dengan keinginan Generasi Z untuk hidup lebih nyaman, menghindari hustle culture, dan menjaga kesehatan mental.
Namun, apakah benar soft life berarti tidak siap bekerja keras?
Whitepaper “Soft Life pada Generasi Z” menghadirkan temuan survei awal untuk melihat bagaimana nilai-nilai tersebut benar-benar tercermin dalam persepsi dan pengalaman Gen Z—bukan sekadar berdasarkan tren di media sosial.
Survei terhadap 22 responden Gen Z menunjukkan sejumlah temuan menarik.
81,8% responden menyatakan setuju atau sangat setuju bahwa mereka secara sadar menghindari hustle culture. Di sisi lain, 68,2% mengaku sering merasa lelah secara emosional akibat tuntutan kerja atau kuliah.
Yang lebih menarik, 90,9% responden meyakini bahwa kesehatan mental merupakan fondasi untuk dapat produktif dalam jangka panjang. Namun, terdapat kesenjangan antara nilai dan praktik: hanya 50% yang menyatakan nyaman mengatakan “tidak” terhadap permintaan yang membebani.
Lalu, bagaimana dengan kesiapan kerja?
Sebanyak 72,7% merasa siap menghadapi tekanan kerja yang wajar tanpa kehilangan kesejahteraan mental, sementara kekhawatiran bahwa preferensi terhadap kenyamanan dapat menghambat kesiapan kerja berada pada tingkat yang lebih moderat. Temuan ini menunjukkan bahwa hubungan antara wellbeing dan kesiapan kerja tidak sesederhana “nyaman versus siap.”
Temukan Gambaran yang Lebih Utuh tentang Gen Z
Whitepaper ini membantu Anda memahami apa yang sebenarnya berada di balik fenomena soft life—mulai dari burnout, hustle culture, kesehatan mental, penetapan batasan, hingga kesiapan menghadapi dunia kerja.
Download whitepaper dan lihat sendiri temuan surveinya.
Memahami Gen Z bukan tentang memberi label. Ini tentang memahami perubahan nilai yang sedang membentuk masa depan dunia kerja.
Form Download Whitepaper
Temuan Survei Awal dan Kontras antara Familiaritas Istilah dengan Praktik Nyata di Kalangan Responden Gen Z